Rabu, 11 Mei 2011

Karakter Terpenting Seorang Pemimpin

Tahun 2010 sebentar lagi berlalu dan tahun 2011 sudah di ambang pintu. Meskipun tahun 2014 masih tiga tahun lagi, tetapi rupanya gerakan-gerakan persiapan Pemilu sudah mulai terasa. Kekuasaan memang sangat menggiurkan.

Dalam upaya memahami aspirasi pembacanya, QB Leadership Center melakukan polling online di LeadershipQB.com. Dua pertanyaan kami ajukan, yaitu:

1. Siapa pemimpin negara terbaik pilihan Anda?
2. Karakter pemimpin yang terpenting bagi Anda adalah?

Seratus satu respons kami terima untuk pertanyaan pertama, dan 40.6% memilih Soekarno sebagai pemimpin negara terbaik. B. J. Habibie yang menjadi Presiden Republik Indonesia dalam waktu yang sangat singkat menduduki urutan kedua dengan raihan suara 20.8%. Posisi ketiga dan keempat diduduki oleh Susilo Bambang Yudhoyono dengan 13.9% suara, dan Soeharto dengan 12.9% suara. Di kelompok paling bawah adalah Megawati dengan 1% suara dan Abdurrahman Wahid dengan 8.9% suara.

Pertanyaan kedua, tentang karakter terpenting seorang pemimpin, mendapatkan 91 respons. Tiga karakter pemimpin yang terpenting berdasarkan respons yang masuk adalah:

1. Jujur dan bersih dari korupsi, serta membangun sistem yang mencegah korupsi.
2. Punya integritas, tegas, dan berani mengambil sikap.
3. Visoner: Punya visi jangka panjang dan mengambil langkah untuk merealisasikannya.

Saya tidak heran bahwa responden menempatkan “Jujur dan bersih dari korupsi, serta membangun sistem yang mencegah korupsi” di urutan teratas. Praktik korupsi di Indonesia memang sangat parah dan terjadi di berbagai tingkatan—mulai dari urusan kecil yang menyangkut pelayanan masyarakat di tingkat kelurahan, hingga rekayasa penggunaan anggaran di lembaga-lembaga pemerintahan.

Praktik korupsi sedemikian parahnya, hingga kita masuk peringkat ke-110 dalam indeks persepsi korupsi dari 200 negara di dunia berdasarkan data dari lembaga Transparency International Indonesia (TII).

Dalam survei yang dilakukan TII di berbagai kota terhadap 9.327 responden, disimpulkan bahwa suap biasanya dilakukan dalam mempercepat izin usaha, mempercepat instalasi utilitas publik, keringanan pembayaran pajak daerah, mendapatkan kontrak publik, mendapat keputusan menguntungkan dalam selisih usaha, dan mempengaruhi pembuatan kebijakan.

Dalam ajang Pemilu dan Pilkada pun, praktik politik uang begitu sering terjadi. Indonesia Corruption Watch (ICW) menyatakan, berdasarkan hasil pemantauan selama tahun 2010, pelaksanaan pemilihan kepala daerah dinilai koruptif.

“Hal ini terlihat dari adanya politik uang, pembagian sembako, pupuk, jilbab, tabung gas, dan lainnya dalam pelaksanaan Pilkada 2010, sehingga memengaruhi pemilih,” kata peneliti ICW, Apung Widadi, Senin (20/12) lalu.

Apung menyebutkan, selama pelaksanaan Pilkada 2010 di 244 daerah, terdapat sebanyak 1.053 kasus pembagian uang secara langsung, pembagian sembako sebanyak 326 kasus, pembagian tabung gas sebanyak 47 kasus, pembagian kerudung sebanyak 39 kasus, dan pembagian pupuk sebanyak 39 kasus yang dilakukan oleh tim pemenangan pasangan calon Pilkada.

Dalam banyak kasus, korupsi di Indonesia bukan hanya didorong oleh motif pribadi pelakunya, tetapi juga karena terpaksa harus beradaptasi pada lingkungan atau sistem yang korup. Lambat laun, mereka yang hidup dalam lingkungan yang korup ini menjadi sulit untuk membedakan mana tindakan yang korupsi dan mana yang tidak, karena hal-hal yang sebetulnya korupsi sudah menjadi sesuatu yang wajar dilakukan oleh semua orang. Apalagi bila ditambah dengan kenyataan bahwa sebagian dari pegawai negeri tidak bisa mencukupi biaya hidupnya dengan hanya mengandalkan gaji saja.

Rendahnya tingkat kesejahteraan pegawai pemerintah, sikap permisif dan kompromis, lemahnya perangkat hukum, hingga lemahnya komitmen para penegak hukum, menjadi faktor dominan mengapa korupsi tumbuh subur di masyarakat.

Praktik-praktik korupsi ini menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang sangat luas. Proses pembangunan tidak berjalan dengan semestinya karena uang yang seharusnya untuk kesejahteraan masyarakat malah masuk ke kantong-kantong pribadi. Apalagi di saat negara tengah menghadapi persoalan berat, seperti pengangguran, kemiskinan, dan berbagai bencana alam. Praktik korupsi dipastikan akan semakin menambah beban negara dan rakyat.

Tiga karakter yang dipilih oleh para responden polling LeadershipQB.com memang adalah karakter yang sangat penting yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin untuk berhasil. Dan saya pun yakin, bahwa di antara ratusan juta penduduk Indonesia tentunya ada pemimpin-pemimpin yang memiliki ketiga karakter tersebut. Apalagi, sebagai Ketua Dewan Juri Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA), saya menyaksikan sendiri, dalam empat kali penyelenggaraannya, BHACA berhasil menemukan pemimpin-pemimpin yang tidak saja bersih dari korupsi, tetapi juga melakukan langkah-langkah nyata untuk membangun lingkungan di mana korupsi bisa ditekan. Sebut saja pemenang BHACA 2010, Walikota Solo Joko Widodo dan Walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang telah berhasil membuat kota yang mereka pimpin masuk dalam daftar lima kota paling bersih di Indonesia.

Kendati demikian, ada pertanyaan yang sering kali merisaukan saya. Dengan sistem pemilihan yang kita miliki sekarang, dan dengan dinamika dan sepak terjang partai-partai politik yang ada kini, akankah pemimpin-pemimpin yang akan maju dan nantinya terpilih memiliki ketiga karakter terpenting di atas?

Semoga pada 2014 nanti, sistem demokrasi kita sudah semakin matang sehingga tidak memberikan ruang bagi terjadinya politik uang. Semoga, para pemimpin yang maju bertarung dalam ajang pemilihan pemimpin Indonesia di tahun 2014 adalah orang-orang yang memiliki karakter terpuji yang sangat dibutuhkan untuk memimpin Indonesia. Dan, semoga rakyat Indonesia pun menjadi lebih dewasa dalam memanfaatkan hak pilihnya untuk memilih pemimpin terbaik yang mampu membawa Indonesia keluar dari rimba korupsi dan mampu membangun Indonesia menuju masyarakat bersih dan sejahtera.

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana
28 Deseber 2010

APBD 2011 Kota Cimahi akan Disahkan 27 Desember 2010

APBD 2011 Kota Cimahi akan Disahkan 27 Desember 2010


CIMAHI, (PRLM).- Meski lebih lambat dari tahun sebelumnya, anggaran pendapatan dan belanja daerah Kota Cimahi 2011 dipastikan rampung tepat waktu. Menurut rencana, APBD 2011 akan disahkan pada 27 Desember 2010.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Cimahi Ade Irawan mengakui, pengesahan APBD 2011 memang sedikit lebih lambat dibandingkan APBD 2010. “Tahun lalu kami mengesahkan APBD 2010 pada 2 Desember 2009,” katanya saat jumpa pers di ruang pimpinan DPRD Kota Cimahi, Kamis (23/12).

Ade mengatakan, ada beberapa faktor yang mebuat pengesahan APBD lebih lambat dari tahun sebelumnya. Selain penurunan dana alokasi khusus (DAK) yang diterima Kota Cimahi mengharuskan adanya rasionalisasi perimbangan anggaran, pemisahan Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil dan Sosial Tenaga kerja serta perubahan status Kantor Kepegawaian Daerah menjadi Badan dilansir membuat pembahasan memakan waktu lebih lama.

Kendati demikian, secara keseluruhan APBD Kota Cimahi 2011 tetap mampu mengikuti percepatan yang dilakukan pemprov Jabar untuk disahkan sebelum tahun anggaran berjalan.

Sementara itu Wakil Ketua I DPRD Kota Cimahi Ahmad Zulkarnaen mengatakan, penurunan DAK 2011 terlalu mempengaruhi APBD secara keseluruhan. Pasalnya, di sisi lain dana alokasi umum (DAU) yang diterima Kota Cimahi naik Rp 12,6 miliar dari Rp 342 miliar pada 2010 menjadi Rp 354 miliar pada 2011.

Selain itu, kata Ahmad, pendapatan asli daerah (PAD) Kota Cimahi juga telah ditargetkan naik dari Rp 78 miliar pada 2010 menjadi Rp 102 miliar pada 2011. Dengan ada dua pajak baru yang akan diterapkan pada 2011, Ahmad yakin target tersebut bisa tercapai. “Belum lagi kita ada harapan mendapat tambahan DAK pada anggaran perubahan di pertengahan tahun,” katanya.

Terkait evaluasi pencapaian hasil kerja DPRD Kota Cimahi 2010, Ade mengatakan, ada beberapa peningkatan dibandingkan 2009. Untuk fungsi legislasi, DPRD Kota Cimahi berhasil menyelesaikan 21 program legislasi daerah (prolegda) dari 24 yang dibahas. Sementara pada 2009, dari 20 prolegda yang dibahas dan diparipurnakan DPRD Kota Cimahi hanya mampu menyelesaikan sembilan peraturan daerah.

Menurut Ade, pada 2010 sebenarnya ada 27 prolegda yang diusulkan. Namun tiga perda terpaksa tidak dibahas karena belum ada undang-undang yang mewadahinya. Sementara tiga perda usulan eksekutif yang belum terbahas akan dibawa ke pembahasan di 2011. Untuk 2011, DPRD Cimahi telah mengusulkan 33 prolegda, termasuk tiga yang tersisa dari 2010.

Ade menegaskan, peningkatan beban kerja itu pulalah yang menjadikan alasan lebih banyaknya kunjungan kerja yang dilakukan anggota DPRD dibandingkan dengan tahun sebelumnya. (A-178/das)***


http://www.pikiran-rakyat.com/node/130555

Kearifan Pemimpin Sejati

Oleh: Agung Praptapa

Konsep manajemen dan kepemimpinan yang kita pelajari kebanyakan berasal dari pemikiran barat. Padahal sebenarnya kita memiliki konsep manajemen made in Indonesia yang luar biasa! Asli Indonesia dan lebih arif dari konsep barat. Bahkan boleh dikatakan inovatif. Mengapa? Konsep manajemen barat memandang birokrasi manajemen dari aspek vertikal dan horizontal. Jadi selalu berbicara atasan dan bawahan (vertikal) serta posisi dalam level sama, kesamping kiri dan kanan (horisontal). Kearifan kepemimpinanpun sejalan dengan konsep tersebut, yaitu diseputar bagaimana seseorang memberikan pengaruh kepada orang lain dalam kerangka birokrasi atasan bawahan serta samping kiri dan kanan tersebut. Di Indonesia, terdapat suatu konsep kepemimpinan yang berbeda dimensi, bukan atas bawah, tetapi depan belakang. Depan belakang? Iya, itulah konsep kepemimpinan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara adalah tokoh dan pelopor pendidikan di Indonesia, yang mendirikan Perguruan Taman Siswa di tahun 1922. Di dalam mengelola perguruan tersebut, Ki Hajar memiliki moto dalam bahasa jawa yang berbunyi: Ing ngarso sung tulodho, ing madaya mangun karsa, tut wuri handayani. Moto tersebut terjemahan langsungnya adalah “di depan memberikan teladan, di tengah menggerakkan, di belakang memberikan dorongan”. Moto tersebut pada mulanya ditujukan untuk menjadi pedoman untuk membangun kultur positif antara guru dan murid, namun dalam perkembangannya konsep tersebut digunakan menjadi konsep kepemimpinan, yang khas dan asli Indonesia. Apa yang membedakan dengan konsep kepemimpinan barat?

Kepemimpinan model barat yang vertikal horisontal, atas bawah dan samping mengandung makna disequality, ketidaksamaan, dan power yang tidak seimbang (asymetric power). Ada posisi diatas yang memerintah dan posisi di bawah yang diperintah. Ada yang more powerful dan ada yang less powerful. Sedangkan konsep kepemimpinan khas Indosesia ala Ki Hajar tidak membedakan orang dari tingkatannya, tetapi dari peranannya. Peran itupun tidak selalu sama, bisa peran saat di depan, peran pada saat di tengah, dan peran pada saat di belakang. Dengan kata lain, pada suatu saat seorang pemimpin harus berperan di depan, pada saat lain di tengah, dan saat yang lain lagi bisa berperan di belakang. Apa maknanya? Mari kita ikuti pembahasan selanjutnya.

Konsep Kearifan Pemimpin
Memimpin dan dipimpin adalah suatu siklus natural dalam kehidupan. Ada saatnya kita harus memimpin, tetapi ada saatnya pula kita harus dipimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang berpengaruh dan diikuti. Seorang pemimpin formal, yang menduduki suatu jabatan tertentu, berpengaruh dan diikuti karena wewenangnya. Namun ada pula seseseorang, yang meskipun tidak memiliki jabatan tertentu, tetapi orang tersebut berpengaruh dan diikuti oleh orang lain. Jadi, ada pemimpin yang berpengaruh dan diikuti karena ditakuti, tetapi ada pula yang berpengaruh dan diikuti karena dicintai.Pemimpin tipe yang terakhir inilah yang disebut pemimpin sejati, yang berpengaruh dan diikuti karena “orangnya” bukan karena “jabatannya”. Sekarang yang perlu dicari jawabannya adalah bagaimana menjadi pemimpin sejati atau true leader?

Seorang pemimpin sejati memandang orang lain sebagai “manusia” yang harus dihargai karena sifat kemanusiaannya. Seorang pemimpin sejati “nguwongake”, memanusiakan manusia. Kaya-miskin, besar-kecil, tinggi-pendek, manajer-karyawan hanyalah variasi. Hakekatnya tetap manusia. Seorang pemimpin sejati menghormati orang yang ‘memimpin’ dan menghormati pula orang yang ‘dipimpin’. Memimpin-dipimpin adalah alami, bahkan tidak bisa dihindari. Sudah kodrat manusia untuk memimpin, dan kodrat pula untuk dipimpin. Untuk itulah dikotomi atasan-bawahan sebenarnya kurang tepat, karena yang sebenarnya ada hanyalah perbedaan peran. Dikotomi atasan bawahan menimbulkan efek berkuasa-tidak berkuasa, atau setidak-tidaknya mengutamakan tingkatan kekuasaan. Inilah yang kurang tepat.

Pendekatan yang lebih alami adalah menempatkan manusia pada perannya masing-masing, dimana semuanya sama pentingnya. Seorang pemimpinpun demikian, harus mampu berperan pada tempat dimana ia berada, pada saat di depan, di tengah, maupun di belakang.

Saat Pemimpin di Depan
Seorang pemimpin adalah panutan. Sebagai panutan, orang lain yang ada disekitarnya akan manut (bahasa jawa, yang artinya mengikuti, meniru). Disini bisa dilhat betapa besarnya tanggungjawab moral seorang pemimpin, karena tindak-tanduknya, tingkah lakunya, cara berfikirnya, bahkan kebiasaannya akan cenderung diikuti orang lain. Untuk itulah maka saat berada di depan, pemimpin harus memberikan teladan, memberikan contoh. Ini disebutkan oleh Ki Hajar dengan terminologi “ing ngarso sung tulodho”, saat di depan seorang pemimpin harus memberi teladan.

Konsep ini sebenarnya tidak jauh dengan konsep “imam”, pemimpin sholat dalam agama Islam. Imam tidak selalu permanen. Seseorang bisa berdiri didepan sebagai imam, memimpin, dan diikuti oleh “makmum”, para peserta yang ada dibelakangnya. Namun dalam kesempatan lain bisa saja orang lain yang menjadi imam, dan orang yang semula imam kemudian dalam kesempatan itu menjadi makmum atau peserta. Disini tidak tercermin adanya atasan-bawahan, tetapi jelas menunjukkan siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin.

Saat Pemimpin di Tengah
Seorang pemimpin yang berada di tengah-tengah orang-orang yang dipimpinnya, harus mampu menggerakkan, memotivasi, dan mengatur sumberdaya yang ada (empowering). Pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri (intrinsic motivation), sehingga ada ataupun tidak adanya stimuli tetap saja akan termotivasi. Hanya saja, kadar motivasi dari diri sendiri sering tidak stabil kehadirannya. Untuk itulah maka motivasi dari luar dirinya (extrinsic motivation) tetap sangat diperlukan. Disinilah seorang pemimpin dapat mengambil peran. Kehadirannya membuat orang tergerak untuk bertindak. Itulah pemimpin sejati.

Seorang pemimpin sejati saat berada di barisan tengah tidak membebani pemimpin lain yang sedang berada di barisan depan maupun belakang. Untuk itulah maka peran oposisi menjadi tidak relevan disini. Dimanapun posisinya, dan apapun perannya akan tetap saling mendukung dan menopang. Saat di tengah, pemimpin sejati menggerakkan, mendorong yang di depan dan menarik yang di belakang. Inilah hakikat dari ing madya mangun karsa.

Saat Pemimpin di Belakang
Siapa bilang seorang pemimpin tidak boleh berada di barisan belakang? Pemimpin sejati diperlukan kehadirannya dibarisan belakang. Dari belakang seorang pemimpin dapat memberikan dorongan untuk terus maju. Pemimpin yang berada di barisan belakang harus pandai-pandai mengikuti barisan di depannya, agar konsisten gerakan dan arahnya , agar terjadi apa yang disebut goal cogruency, suatu keadaan di mana tujuan individu yang berada dalam suatu organisasi konsisten dengan tujuan organisasi. Tanpa goal congruency arah gerakan organisasi menjadi berat karena banyaknya arah yang tidak sama dan mungkin justru saling berlawanan.

Seorang pemimpin sejati harus bisa ngemong (bahasa jawa yang berarti melayani, mengasuh, take care of). Bagaimana seorang penggembala itik berjalan diposisi paling belakang setelah barisan itik-itik yang digembalanya sering digunakan sebagai ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana seorang pemimpin dapat mengarahkan orang dari belakang. Setiap orang memiliki bakat sendiri-sendiri. Setiap orang juga memiliki kemampuan untuk bisa bergerak maju mendapatkan apa yang mereka mau, dan juga apa yang diinginkan oleh organisasi. Pemimpin sejati memberikan dorongan dari belakang, tetap mengarahkan agar sesuai tujuan, dan mampu memastikan bahwa orang-orang di dalam organisasi bekerja sesuai dengan arah dan strategi yang telah ditetapkan. Jadi, seorang pemimpin sejati akan tut wuri handayani.

Penutup
Seorang pemimpin sejati harus ing ngarso sung tulodho, memberikan teladan. Seorang pemimpin juga harus mampu menggerakkan orang-orang disekitarnya. Disinilah peran pemimpin agar ing madya mangun karso. Yang terakhir, seorang pemimpin harus mampu mengendalikan dari belakang, mengarahkan, dan mendorong orang-orang agar bergerak maju sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Disini seorang pemimpin harus tut wuri handayani. *